TISAM

Titip salam kamu yang ingin kamu sampaikan. Klik, di sini.

Artikel

Tambah wawasan kamu dengan membaca artikel menarik. Klik, di sini.

News

Berita seputar sekolah, kegiatan, organisasi, dll. Klik, di sini. not yet
 

Guru Sebagai Fasilitator

Sabtu, 15 Januari 2011

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.

Semua yang terkait dengan belajar dan mengajar tidak terlepas dari satu hal yang disebut dengan perencanaan pemelajaran, Wiliam H. Newman dalam bukunya Administrative Action Techniques of Organization and Management: mengemungkakan bahwa “Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, menentukan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.”

Sedangkan pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh guru dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik.

Dari beberapa masalah yang terkait dengan pendidikan, yang paling menonjol dan mendesak untuk dibicarakan adalah masalah metode pemelajaran. Tentu saja persoalan metode pembelajaran tersebut terkait erat dengan suatu paradikma dan visi pendidikan yang diharapakan lebih cocok dengan tuntutan zaman, metode pengajaran itu sangat mendasar, karena ia akan digunakan secara praktis oleh para guru. Karena itu, pembicaraan tentang paradigma, visi dan metode pengajaran ini akan dengan sendirinya menuntut peningkatan dan penyesuaian kualitas SDM para pengelola, guru, juga akhirnya para siswa, sehingga mereka para pengelola, guru dan siswa menjadi lebih aktif, kreatif, mandiri dan berpikir problem solving.
Banyak orang telah mengetahui, bahwa ternyata potensi yang dimiliki oleh otak manusia itu sangat luar biasa. Tapi sayang potensi itu hanya tinggal potensi. Sebagian besar manusia belum biasa menggunakan dan memanfaatkan kehebatan potensi otak yang dimilikinya. Orang secerdas Einstein saja, konon baru berhasil mengaktualisasikan potensi otaknya sebesar 20%.
Sebagian besar metode dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru tanpak nya lebih banyak menghambat dari pada memotivasi potensi otak. Seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang harus mau mendengarkan, mau menerima seluruh informasi dan mentaati segala perlakuan gurunya. Dan yang lebih parah lagi adalah fakta bahwa semua yang dipelajari di bangku sekolah itu ternyata tidak interaktif dengan kehidupan sehari-hari . Bahkan tak jarang realitas sehari-hari yang mereka saksikan bertolak-belakang dengan pelajaran disekolah.
Budaya dan mental semacam ini pada gilirannya membuat siswa tidak mampu megaktivasi kemampuan otaknya. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran dan tergantung pada orang lain. Budaya dan mental para peserta didik seperti ini juga berkolerasi dengan budaya dan mental masyarakat secara luas.

Dengan demikian sebuah metode yang lebih cocok bagi para siswa dimasa sekarang ini adalah mutlak mesti ditemukan, untuk kemudian diterapkan. Apa pun nama dan istilah metode tersebut tidak jadi soal, asalkan ia lebih menekankan peran aktif para peserta didik/siswa. Guru tentu saja tetap dianggap lebih berpengalam dan lebih banyak pengetahuannya, tapi ia tidak pemegang satu-satunya kebenaran sebab, kebenaran itu bisa saja datang dari para peserta didik. Karena itu metode tersebut mesti bertumpu pada dialok sehingga para siswa dituntut untuk berpendapat dan menyampaikan komentar-komentarnya terhadap berbagai materi pelajaran dan informasi yang ada, juga suasana belajar harus menyenangkan.
Dalam kontek di atas guru harus lebih berperan sebagai fasilitator, yang mengajak, merangsang dan memberikan stimulus-stimulus kepada para peserta didik agar menggunakan kecakapannya secara bebas dan bertanggungjawab.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

terutama buat guru guru gocap tersayang nih!!
semoga metode nya ditemukan yaah hehe :D

Admin mengatakan...

disampaikan XD

Poskan Komentar